Semua ini berawal dari keinginan Abiku untuk menyekolahkanku ke sebuah sekolah, yang letaknya sangat jauh dari rumah, bahkan daerah tempat tinggalku sendiri.
Let's Read
Ketika lulus dari Sekolah Dasar, aku pun melanjutkan sekolahku kejenjang selanjutnya. Aku melanjutkan bukan ke SMP atau MTs Negri favorit ataupun biasa di daerah tempat tinggalku, melainkan aku melanjutkan kesebuah sekolah yang sangat luar biasa, yang membuatku merasakan hal-hal yang luar biasa yang tak akan aku dapatkan jika aku sekolah di sekolah biasa. Ya, tepatnya aku masuk kesebuah Pondok Pesantren Modern di daerah Kuningan Jawa Barat. Walaupun awalnya, aku masuk ke sekolah itu bukan keinginanku sendiri dan aku agak merasa tidak senang masuk ke Pondok Pesantren ini, akhirnya setelah hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, sampai akhirnya tahun pun berganti. Aku merasa banyak sekali pelajaran berharga yang aku dapatkan, dan aku sangat-sangat berterimakasih kepada Abi dan Bundaku yang sudah menitipkanku di Pondok Pesantren ini.
Jangan kamu kira aku disini selalu merasakan hal-hal yang menyenangkan, sehingga aku berani berkata demikian. Aku tegaskan "tidak!!", bahkan ketika masa-masa adaptasi ditahun pertama aku menuntut ilmu di Pondok Pesantren ini aku sudah diterjang masalah. Memang bukan masalah berat dan begitu serius, akan tetapi yang aku rasakan, untuk seorang anak perempuan yang baru saja lulus dari SD dan baru pertamakali mengenal 'bagaimana Pondok Pesantren itu?' hal ini begitu amat besar dan sangat mengiris hati.
Hal ini sepele, hanya karena pemimpin kamar dari kelas yang lebih tinggi dariku (kami menyebutnya "musyrifah") pilih kasih (bahasa umumnya), dan sepertinya dia tidak begitu menyukai diriku. Dia lebih menyayangi beberapa anak kamar dan itu pun jumlahnya hanya 2-3 orang. Aku selalu berusaha menarik simpati darinya, tapi apa boleh buat? Mungkin karena ketidak sukaannya kepadaku, simpati darinyapun tak kunjunga aku dapatkan. Sampai aku depresi berat dan hampir saja hendak pindah dari Pondok Pesantren ini, tapi akhirnya aku mulai mencoba lebih memahami dirinya, walaupun harus terus memendam rasa sakit hati yang sangat dalam. Dia seperti selalu saja sulit menerima kelebihan diriku, dan sebenarnya akupun sudah mencoba berbagai cara untuk terus mendekatinya, salah satunya aku mulai memberanikan diri untuk berbicara empat mata denganya. Tapi yang aku rasakan, perhatiannya ada hanya ketika itu saja, setelah waktu itu berlalu dia kembali seperti semula. Akupun bersabar karena tak lama dari waktu ini, aku akan pindah kamar dan itu berarti aku tak akan bertemu kembali dengan dirinya di kamar yang akan aku tempati di kelas 8 nanti.
Hal ini sepele, hanya karena pemimpin kamar dari kelas yang lebih tinggi dariku (kami menyebutnya "musyrifah") pilih kasih (bahasa umumnya), dan sepertinya dia tidak begitu menyukai diriku. Dia lebih menyayangi beberapa anak kamar dan itu pun jumlahnya hanya 2-3 orang. Aku selalu berusaha menarik simpati darinya, tapi apa boleh buat? Mungkin karena ketidak sukaannya kepadaku, simpati darinyapun tak kunjunga aku dapatkan. Sampai aku depresi berat dan hampir saja hendak pindah dari Pondok Pesantren ini, tapi akhirnya aku mulai mencoba lebih memahami dirinya, walaupun harus terus memendam rasa sakit hati yang sangat dalam. Dia seperti selalu saja sulit menerima kelebihan diriku, dan sebenarnya akupun sudah mencoba berbagai cara untuk terus mendekatinya, salah satunya aku mulai memberanikan diri untuk berbicara empat mata denganya. Tapi yang aku rasakan, perhatiannya ada hanya ketika itu saja, setelah waktu itu berlalu dia kembali seperti semula. Akupun bersabar karena tak lama dari waktu ini, aku akan pindah kamar dan itu berarti aku tak akan bertemu kembali dengan dirinya di kamar yang akan aku tempati di kelas 8 nanti.
Waktu-waktu pun berlalu, akhirnya saat itu pun tiba. Saat yang dalam satu sisi aku merasa sedih karena harus berpisah dengan teman-teman seperadaptasian, dan disisi lain aku merasa bahagia karena aku akan terlepas dari dirinya. Malam itu, malam terakhir kami tidur bersama dan tinggal di kamar itu lagi. Dia mengumpulkan kami semua dan mengucapkan kata-kata perpisahan dan permohonan maaf kepada kami semua. Dengan hati yang agak keberatan, akupun memaafkannya.
Esok hari, setelah sholat shubuh. Semua santri berkumpul di masjid untuk mendengarkan pengumuman perpindahan kamar. Setelah menunggu-nunggu namaku di sebut dan dengan hati yang bertanya-tanya di dalam hati 'dimana kamarku nanti?', akupun mendapatkan jawaban atas pertanyaanku itu. Alhamdulillah aku mendapatkan kamar bahasa, dan itu berarti aku mendapatkan kamar yang paling istimewa di Pondok Pesantren ini. Karena itupula anak-anak yang menghuni kamar tersebut pun bukan anak-anak yang biasa-biasa saja.
Dan itu adalah pengalaman juga pelajaran hidup bagiku, bahwa dimanapun bahkan disebuah Pondok Pesantren sekalipun, pasti saja masalah itu ada. Dan pasti saja ada orang yang tidak menyukai dan iri kepada apa yang telah kita miliki. Semoga Allah selalu memberi perlindungan kepada dirinya, dan mengabulkan semua doa-doanya. Amiin..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar